Minggu, 16 Juni 2013

ASIANUSA Keberatan dengan PP41 Tahun 2013, khususnya Pasal 2 ayat 7b dan Pasal 3 ayat 1c1



Kami adalah Asosiasi Industri Automotif Nusantara (Asianusa), yang anggotanya terdiri dari produsen 'Micro Car' dan Mesin Penggerak di seluruh Indonesia. Yang tergabung dalam ASIANUSA saat ini adalah : AG-TAWON, WAKABA, FIN KOMODO, MERAPI, GEA, BONEO, KANCIL dan ITM, secara geografis masing telah mewakili Propinsi Banten, DKI, Jabar, Jateng dan Jatim.  

Perlu diketahui bahwa para anggota kami memproduksi otomotif nasional dengan kepemilikan dan rancangan karya anak bangsa sendiri dengan mesin dibawah 1.000 CC.

Sehubungan dengan telah diterbitkannya Peraturan Pemerintah No. 41 Tahun 2013 pada tanggal 23 Mei 2013 tentang: "Barang Kena Pajak yang tergolong mewah berupa kendaraan bermotor yang dikenai pajak penjualan atas barang mewah", dengan ini kami mengajukan keberatan atas isi dari Peraturan Pemerintah tersebut yang berpotensi mematikan industri otomotif nasional yang sedang dirintis oleh para anggota kami, khususnya yang terera pada: Pasal 2 Ayat 7b dan Pasal 3 ayat 1c.

Pasal 2 Ayat 7b:

(7) Kelompok Barang Kena Pajak yang tergolong mewah berupa kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang dikenai Pajak Penjualan atas Barang Mewah dengan tarif sebesar 60% (enam puluh persen), adalah:

b. kendaraan khusus yang dibuat untuk perjalanan di atas salju, di pantai, di gunung, dan kendaraan semacam itu.


Keberatan kami adalah:

Kami saat ini sedang merintis sebuah industri Otomotif sejak tahun 2005 mulai tahap perancangan sampai kemudian tahun 2008 mulai prokdusi dan masuk ke pasar. Kendaraan Nasional ini kami beri merk: "FIN Komodo" Offroad Utility Vehicle yang membidik segmentasi pasar: perkebunan, kehutanan, pertambangan, proyek2, militer, rekreasi, SAR dll. Produk kami ini sudah terjual dan masuk ke pasar yang kami bidik sejak tahun 2008, dan sejak saat itu kami mulai melakukan ekspansi kapasitas produksi sesuai dengan permintaan pasar dan sampai saat ini kapasitas produsi kami sudah mencapai 10 Unit/Bulan.

Keberatan kami adalah, dengan keluarnya PP tersebut maka harga Fin Komodo yang semula adalah 77 Juta, setelah dikenai PPN-BM 60% maka harga Fin Komodo menjadi 123,2 Juta. Hal ini menjadi kendala bagi kami dalam memasarkan produk kami yang sudah masuk dan diterima pasar.

Pasal 3 ayat 1c1:

(1) Pajak Penjualan atas Barang Mewah atas Barang Kena Pajak yang tergolong mewah yang termasuk dalam kelompok kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2), ayat (3), ayat (4), ayat (5), dan ayat (8), dihitung dengan Dasar Pengenaan Pajak sebesar:

c. 0% (nol persen) dari Harga Jual untuk kendaraan bermotor yang termasuk program mobil hemat energi dan harga terjangkau, selain sedan atau station wagon, dengan persyaratan sebagai berikut:

1. motor bakar cetus api dengan kapasitas isi silinder sampai dengan 1.200 cc dan konsumsi bahan bakar minyak paling sedikit 20 kilometer per liter atau bahan bakar lain yang setara dengan itu; atau


Keberatan kami adalah:

Kami saat ini sudah mempunyai produk otomotif nasional yang yang siap produsi ber merk "Tawon" dan "GEA" yang semuanya berapasitas silinder 650 CC, kedua produk ini sudah masuk ke pasar sejak tahun 2009, sampai saat ini kami sudah siap produsi dengan kapasitas produksi terpasang 400-600 unit/bulan.

Keberatan Kami adalah, dengan keluarnya PP tersebut maka kami yang masih baru mulai memproduksi mobil nasional ini dibenturkan dengan pesaing2 merk asing karena dengan keluarnya PP tersebut maka PPN-BM untuk merk asing yang berapasitas silinder 0-12.00CC harganya akan menjadi murah dan diperkirakan akan menjadi 80-90juta. Dengan kisaran harga kami sebesar 40-70jt maka bisa dipastian bahwa segmentasi pasar yang akan kami bidik aan direbut oleh merk2 asing berkapasitas 0 - 1.200CC yang memanfaatkan PP tersebut dengan PPN-BM 0%.

Janji pemerintah lewat Kementrian Perindustrian pada saat itu sebelum terbit PP ini adalah  akan ada "Program Mobil Murah Angkutan Pedesaan" yang akan mengatur dan melindungi produsen Asianusa pada kisaran kapasitas silinder 0-750cc (saat itu permintaan Asianusa 0-1.00CC), tetapi yang keluar saat ini justru dipukul rata dari 0-1.200cc sehingga merk asing bebas masuk ke pasar yang kami bidik di 0 - 100 cc.

Kendaraan Fin Komodo yang sebelumnya tidak ada aturan spesifik yang mengatur PPNBM, sekarang malahan dikenaan PPN-BM 60%, apa sebenarnya maksud dari PP tersebut ? Karena PP tersebut jelas-jelas akan membunuh embrio mobil nasional karya anak bangsa yang saat ini baru tumbuh dan berusia balita.

Mohon bantuan dan dukungan dari segenap Rakyat Indonesia, serta pejabat-pejabat terkait agar dapat mengklarifikasi pemasalahan kami tersebut. Beberapa pihak terkait sudah kami hubungi dan kami jelaskan duduk persoalannya. 

Kami mohon doa dan dukungan kepada seluruh Bangsa Indonesia agar mimpi tentang keberadaan Mobil Nasional Karya Anak Bangsa di negeri sendiri yang sedang kami perjuangkan ini dapat TERWUJUD. Aamiin YRA

Kamis, 30 Juni 2011

Asianusa mengundurkan diri sebagai peserta Pameran IIMS 2011 yang ke 19

Kepada Yth.
Dyandra Promosindo
The City Tower (TCT) 7th Floor
Jl MH Thamrin 81, Jakarta Pusat

Up. Bapak Susilo Wirawan

Hal: Pengunduran diri Asianusa sebagai peserta dalam Pameran IIMS 2011

Dengan hormat,

Pertama-tama kami ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kesediaan pelaksana serta penyelenggara pameran  IIMS2011 yang telah memberikan fasilitas kepada Asianusa untuk berpartisipasi dalam pameran tsb., bahkan pada tanggal 17 Juni 2011 perwakilan kami telah mengghadiri ‘Teahnical Meeting’ dan kami sudah mendapatkan ID Card serta bahan-bahan arahan dari pelaksana pameran (Dyandra Promosindo). Kami juga mengucapkan terima kasih telah diberikan fasilitas untuk melakukan ‘Test Drive” di area pameran tersebut, namun dalam perjalanannya kami cukup kaget membaca berita dari otomotifnet.com, yang berjudul “Di IIMS Bisa Test Drive Mobil Nasional, Tapi Awas Rodanya Copot!” , disitu ada statemen dari Ketua Penyelenggara Pameran yaitu:

"Tapi hati-hati, buat yang suka kebut-kebutan tidak boleh test drive mobnas, nanti rodanya copot," canda Ketua Panitia IIMS 2011, Johnny Darmawan, disela-sela konferensi pers IIMS 2011 yang kedua, hari ini (22/6). Berta selengkapnya dapat dilihat di website: http://mobil.otomotifnet.com/read/2011/06/22/320660/41/7/Di-IIMS-Bisa-Test-Drive-Mobil-Nasional-Tapi-Awas-Rodanya-Copot

Walaupun bernada canda, menurut hemat kami hal tersebut kurang pantas dinyatakan oleh yang terhormat Bp. Johnny Darmawan dalam kapasitasnya sebagai Ketua Penyelenggara Pameran IIMS 2011, apalagi canda tersebut dilontarkan dalam Acara “Press Conference ke 2’ pada tanggal 22 Juni 2011. Pameran IIMS adalah Pameran yang bergengsi dan bertaraf Internasional yang tuan rumahnya adalah Negara Indonesia, dan menurut kami Bp. Johnny Darmawan, sebagai putra bangsa sepatutnya haruslah mendukung produk bangsanya sendiri, bukan nya malah mencemooh dengan candaan didepan para wartawan, yang berkesan merendahkan produk mobil nasional.

Sebagaiman yang dinyatakan dalam berita tersebut  bahwa ‘Entah apa maksud dari candaan Ketua Panitia IIMS 2011 tersebut,’, demikian juga kami tidak memahami apa maksud dari candaan tersebut.

Sehubungan dengan hal tersebut diatas,  dengan ini kami mohon maaf yang sebesar-besarnya dan mengajukan permohonan  Pengunduran diri Asianusa sebagai peserta dalam Pameran IIMS 2011, walaupun demikian kami tetap berharap agar Pameran IIMS 2011 mendapatkan kesuksesan.

Demikian surat pengunduran diri kami dan terima kasih atas perhatian serta kerjasama yang baik dari Penyelenggara dan Pelaksana Pameran IIMS 2011.

Salam Asianusa,
Ttd.                                                     

Ibnu Susilo                                                                              Moh. Irfan
Ketua                                                                                       Sekjen


Lampiran:

Berita di Otomotifnet.com:

Rabu, 22 Juni 2011 17:05 WIB
IIMS 2011

Di IIMS Bisa Test Drive Mobil Nasional, Tapi Awas Rodanya Copot!


Jakarta - Kabar baik bagi perkembangan industri mobil nasional. Kalau tahun lalu di IIMS hanya bisa memajang mobil-mobilnya, maka di tahun 2011 ini, mobil-mobil nasional tersebut bisa dijajal oleh para pengunjung. Tapi...

"Tapi hati-hati, buat yang suka kebut-kebutan tidak boleh test drive mobnas, nanti rodanya copot," canda Ketua Panitia IIMS 2011, Johnny Darmawan, disela-sela konferensi pers IIMS 2011 yang kedua, hari ini (22/6)

Entah apa maksud dari candaan Ketua Panitia IIMS 2011 tersebut, namun yang pasti kesempatan besar di IIMS 2011 kali ini hendaknya juga bisa dimanfaatkan dengan baik oleh para pelaku industri mobil nasional, dengan memajang mobil-mobilnya yang semakin inovatif dan berkualitas.

Ya, ajang sesi test drive mobil nasional tersebut merupakan salah satu bentuk dukungan dari pihak penyelenggara IIMS 2011 terhadap industri mobil nasional, dimana berbagai merek yang siap berpartisipasi di IIMS 2011 ini antara lain Tawon, Fin KOmodo, juga GEA.

Jajaran mobil nasional ini akan ditempatkan di Hall C, berbarengan dengan deretan booth komponen dan aksesoris kendaraan bermotor. (mobil.otomotifnet.com)

Sumber: Blog Asianusa

Selasa, 26 April 2011

In Memoriam Soeprapto Soejatmo : Anak Akur dan Rawat Mobil

Satulagi tokoh otomotif meninggalkan kita semua. Soeparto Sujatmo (68 tahun) menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Siloam, Lippo Karawaci, Sabtu (12/3) pukul 01.35 WIB. Mantan Direktur Teknik PT Timor Putra Nasional dan Sekjen PP IMI ini meninggal setelah hampir 2 tahun dibelit komplikasi penyakit di tubuhnya.

Di hadapan ketiga anaknya, dan sang istri Novi (asal Jepang), Om Parto, begitu lelaki ini biasa disapa, sempat membisikkan sesuatu sebelum detik-detik terakhir. "Papa sempat berucap minta anak-anak akur dan disuruh rawat mobilnya. Gak gitu jelas mobil yang mana, soalnya waktu papa udah payah banget. Tapi feeling saya mobil yang papa bikin kali ya," ujara Ayako Kusumawardhani, anak pertama dari 3 anak Om Parto. Anak kedua dan ketiganya yakni Sunny TS (pembalap turing) dan Dewi.

Almarhum memang tengah merancang mobil buatan sendiri yang murah dan cocok  di Indonesia sebelum jatuh sakit. Mobil dengan kapasitas mesin 600 cc itu menjadi maskotnya. Sayangnya sebelum mobil itu banyak dipublikasikan, Om Parto dipanggil Sang Ilahi.

Tampak sanak saudara, handai taulan, komunitas balap hingga sejumlah mantan pejabat negara mengiringi hingga ke pemakaman terakir di Karet Bivak, Jakarta Selatan, Sabtu (12/3) pukul 14.00 WIB. Tinton Soeprapto, sang adik, tampak sibuk dalam liang kubur hingga membuka tali kafan di kepala sebelum dikuburkan.

"Kita kehilangan tokoh otomotif, mantan sekjen PP IMI, yang sangat setia dengan dunia otomotif. Integritas dan upayanya memajukan dunia balap layak diteladani kita semua," ujar Juliari Batubara,  Ketua Umum PP IMI di Karet Bivak.

Helmy Sungkar masih teringat betapa almarhum sangat peduli terhadap urusan safety. "Sekitar 20 tahun lalu bersama saya ingin mengembangkan helm merek Arai di Indonesia. Namun kemudian tak terlaksana karena kita tak hanya ingin menjadi tukang jahit, tetapi produsen. Almarhum Om Parto memperhitungkan hal detail seperti itu," ungkap Helmy.

Selamat jalan Om Parto, kami akan mengenang karya-karyamu. 
(otosport.co.id)

Mobil Rusnas, Kendaraan Ringan Rancangan Alm. Suparto Soejatmo

Published By Seputar Wirausaha under Teknologi Industri  Tags: ,  

Kemampuan melakukan rancang bangun kendaraan bermotor kini bukan lagi monopoli negara-negara maju. Para ahli dan praktisi otomotif nasional pun kini sudah mampu menciptakan platform kendaraan bermotor roda empat yang seluruh proses penciptaannya mulai dari perancangan sampai pembangunannya dilakukan sendiri oleh putra-puteri anak bangsa.

Kemampuan rancang bangun produk otomotif itu tidak hanya terbatas pada kendaraan roda dua (sepeda motor), tetapi juga pada kendaraan bermotor roda empat atau mobil. Salah satu produk kendaraan bermotor roda empat hasil karya cipta anak bangsa itu diantaranya adalah Mobil Sunny 500 yang oleh Badan 

Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) diberi nama Mobil Rusnas (Riset Unggulan Strategis Nasional). Mobil hasil rancangan Suparto Soejatmo, seorang ahli desain dan perekayasaan otomotif yang juga Presiden Direktur PT Indo Techno Mandiri itu, kini telah selesai dibuat satu unit prototipenya melalui kerjasama dengan BPPT.

Kendaraan ringan yang rangkanya terbuat dari pipa baja sedangkan badan mobil (body)-nya terbuat dari bahan fiber glass dan digerakkan dengan mesin bensin dua silinder berkapasitas 500 cc itu merupakan hasil karya rancang bangun Suparto beserta tim. Suparto sendiri yang merancang mesin mobil Sunny 500 yang kemudian dibangun bersama tim BBPT sehingga dihasilkan engine Rusnas.

Keistimewaan mesin Rusnas itu, selain irit konsumsi bahan bakarnya juga dapat menggunakan dua jenis bahan bakar, yaitu bahan bakar bensin atau Bahan Bakar Gas (BBG) dari kelompok Compressed Natural Gas (CNG). Kendaraan ringan yang dirancang secara khusus oleh Suparto untuk memenuhi kebutuhan angkutan di lingkungan kompleks perumahan dan untuk angkutan pedesaan, mampu melaju dengan kecepatan 60-70 km per jam.

“Sebetulnya saya sudah mencoba kendaraan ini dengan kecepatan hingga melebihi 100 km per jam, namun mengingat kendaraan ini bobotnya sangat ringan karena terbuat dari rangka pipa baja dan body dari fiber glass, maka kecepatannya harus dibatasi hanya sampai 60-70 km per jam agar penggunaanya tetap aman dan nyaman. Sebab, kalau kecepatannya jauh di atas 100 km per jam, mobil ini bisa melayang mengingat bobotnya yang ringan,” kata Suparto.

Dengan alasan itu pula, Suparto merekomendasikan agar kendaraan tersebut tidak dipergunakan di jalan tol atau jalan raya bebas hambatan lainnya karena kalau kendaraan ini berpapasan dengan truk atau bus yang melaju dengan kecepatan tinggi bisa timbul efek negatif yang tidak diinginkan.

Kegiatan rancang bangun mesin bukanlah sesuatu yang asing bagi Suparto. Sebab, ketika masih bermukim di Italia, Suparto pernah merancang mesin mobil dengan kapasitas 1500 cc dan 1600 cc serta memproduksi prototipe mesin hasil rancangannya itu dengan menggunakan dana sendiri. Bahkan rancangan mesin berkapasitas 1500 cc dan 1600 cc itu suatu ketika pernah diperlihatkan kepada mantan Presiden Habibie pada saat beliau berkunjung ke Italia.

Sedangkan mesin Rusnas sendiri mulai dirancang Suparto sejak tahun 2001 ketika dia sudah bermukim kembali di Indonesia. Secara kebetulan Menristek/Kepala BPPT ketika itu (tahun 2003), Hatta Rajasa berkunjung ke workshop Suparto di Jakarta dan berkesempatan melihat mesin Sunny 500 hasil rancangan Suparto.

“Menristek tertarik mesin Sunny 500 hasil rancangan saya dan menyatakan Kementerian Ristek/BPPT siap membiayai pembuatan mesin yang kemudian disebut mesin Rusnas,” kata Suparto mengenang perjumpaannya dengan Menristek/Kepala BPPT Hatta Rajasa.

Setelah mesin Rusnas berhasil dibangun bersama dengan tim BPPT, Suparto mulai berpikir untuk menggunakan mesin tersebut untuk menggerakkan kendaraan/mobil. Karena itu, Suparto kembali memutar otaknya untuk merancang sebuah kendaraan yang dapat digerakkan dengan mesin Rusnas 500 cc itu. Setelah mempertimbangkan berbagai aspek ekonomi, bisnis dan sosial kultural masyarakat Indonesia, akhirnya Suparto memutuskan untuk membangun mobil ringan dengan bahan rangka dari pipa baja dan material body terbuat dari fiber glass. Kedua jenis bahan tersebut dipilih setelah mempertimbangkan berbagai aspek di atas dengan harapan harga jual mobil ringan itu bisa terjangkau oleh masyarakat khususnya di pedesaan.

Menurut Suparto, hasil rancangan mobil ringan itu sebetulnya bisa saja diproduksi secara massal untuk mengisi pasar otomotif di dalam negeri. Namun sejauh ini Suparto mengaku pihaknya tidak memiliki modal kerja yang cukup untuk memproduksi mobil tersebut, kecuali kalau ada calon investor yang berminat memodali produksi kendaraan ringan tersebut secara massal.

“Mengenai harga jualnya, tentu sangat relatif. Sebab hal itu sangat tergantung kepada volume produksinya. Semakin besar volume produksinya maka semakin dapat ditekan harga jualnya,” kata Suparto seraya menambahkan kalau skala ekonomis produksi Mobil Rusnas dapat dicapai maka mobil tersebut dapat dijual kepada umum dengan harga di atas Rp 30 juta.

Sejauh ini, Suparto melalui PT Indo Techno Mandiri miliknya telah berhasil mengembangankan tiga varian Mobil Rusnas, yaitu sedan, pick up (bak terbuka) dan minibus. Mobil ringan tipe sedan Rusnas sendiri memiliki kapasitas tempat duduk untuk empat orang penumpang dan mampu mengangkut barang seberat 200 kg.

Untuk meningkatkan kemampuan mobil, mesin mobil sedan Rusnas dapat ditingkatkan kapasitasnya menjadi 650 cc. Dengan kapasitas mesin yang relatif kecil seperti itu, maka konsumsi bahan bakar bensin pun bisa dihemat. Konsumsi bahan bakar bensin mobil Rusnas cukup irit, yaitu 1 liter bensin dapat digunakan untuk menempuh jarak sejauh 30 km. Fitur ini sangat penting karena dewasa ini harga BBM di dalam negeri terus mengalami kenaikan sejalan dengan naiknya harga minyak bumi dunia dan dipangkasnya subsidi BBM oleh pemerintah.

Kemampuan Suparto dalam melakukan rancang bangun kendaraan bermotor memang tidak datang begitu saja. Latar belakang pendidikan dan segudang pengalaman bekerja di industri otomotif dunia telah memungkinkan Suparto untuk membuat karya cipta berupa rancang bangun mobil yang diilhami dari gagasan-gagasannya sendiri.

Suparto yang mantan PNS di Departemen Perindustrian itu sempat menempuh pendidikan di Waseda University, Tokyo, Jepang di bidang mesin dan engineering. Seusai menamatkan kuliah di Waseda University, Suparto tidak langsung pulang ke Indonesia melainkan tetap tinggal di Jepang dan bekerja di sebuah perusahaan otomotif negeri Sakura itu.

Pengalaman di bidang mesin dan perekayasaan otomotif juga diperoleh Suparto dari sejumlah perusahaan industri otomotif di berbagai negara. Sebab, setelah bermukim selama kurang lebih 13 tahun di Jepang, Suparto sempat bermukim di sejumlah negara Eropa untuk bekerja pada perusahaan-perusahaan otomotif kelas dunia. Salah satu perusahaan otomotif Eropa yang pernah menjadi tempat kerja Suparto adalah Lamborghini di Italia.

Suparto juga pernah bekerja sebagai mekanik pada perusahaan pengelola balapan mobil terkemuka di dunia Formula 1 (F1) pada tahun 1970-an dan sempat mendirikan usaha sendiri yang bergerak di bidang mobil balap (motor sport). Kini di usianya yang sudah tidak muda lagi, Suparto yang merupakan kakak kandung dari mantan pembalap nasional Tinton Suprapto itu menjalankan perusahaan Research and Development (R&D) di bidang desain dan perekayasaan yang diberinya nama PT Indo Techno Mandiri.

Sumber : Majalah Kina (No.2-2008) Departemen Perindustrian RI

MESIN 100% Indonesia dari ITM


Mesin 4 tak 500cc 2 silinder segaris yang dirancang bangun oleh salah satu begawan mesin Indonesia, Alm. Bpk. Soeparto Soejatmo, owner ITM dan salah satu penasehat ASIA NUSA. Kabar terakhir sedang dalam tahap penyelesaian riset untuk perangkat injeksinya…..


 Rancangan dan Perancangnya… Alm. Bpk. Soeparto Soejatmo

Mesin Rusnas

Kini Suparto Soejatmo (73) merancang mesin kecil 500 cc berbahan bakar bensin. Rancangan dilakukan tahun 2002 dengan dana program Riset Unggulan Strategis Nasional dari Kementerian Negara Riset dan Teknologi. Program ini melibatkan peneliti dan perekayasa yang diketuai I Nyoman Jujur di Pusat Teknologi Material Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Suparto tahun 1960-an terlibat perancangan mesin bemo, mesin mobil balap di Jepang dan Eropa, juga mesin mobil Timor yang batal diterapkan.

Tahun 2007 pembuatan mesin serba guna ini mencapai tahap akhir. Tahun ini telah melewati tahap uji coba dan akan masuk ke tahap studi produksi.

Pembuatan prototipe mesin melibatkan industri logam di Tegal, PT NEFA Global Industries, dengan supervisi dari BPPT. Bahan baku mesin paduan aluminium yang relatif ringan.
Tahun 2008 PT NEFA Global Industries mampu membuat lima mesin Rusnas dengan kualitas sama dengan prototipenya.

Uji kinerja prototipe mesin ini dilakukan di Balai Termodinamika Motor dan Propulsi di Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Serpong, Banten.

Di lapangan, mesin ini tidak hanya digunakan untuk mengangkut hasil bumi, tetapi juga bisa sebagai mesin proses, misalnya untuk menggiling jagung atau pengupas kopi. Prototipe mesin ini dapat diaplikasikan di kapal nelayan, mobil mini perkotaan, dan motor penggerak alat pertanian.

”Mobil mini dengan nama GEA-Rusnas sudah diuji coba. Hasilnya baik, dilakukan tes di Sentul, Jawa Barat, dengan kecepatan 90 kilometer per jam,” urai Suparto, Presiden Direktur Indo Techno Mandiri.

Sistem injeksi

Selain prototipe mesin yang menggunakan sistem karburator, juga dikembangkan sistem injeksi bahan bahan bakar secara elektronis (electronic fuel injection/EFI) yang relatif baru digunakan di bidang otomotif.

Sistem ini dibangun dengan memanfaatkan potensi lokal melalui pembuatan electronic control unit. Saat injeksi dan pembakaran mulai dikomputasikan agar mesin yang optimal.

Pengembangan lain, mesin dimodifikasi agar bisa digerakkan dengan dua bahan bakar—premium dan bahan bakar gas dari jenis compression natural gas (CNG)—yang lebih murah dan aman dibandingkan dengan liquefied petroleum gas (LPG).

Mesin Rusnas ini akan ditingkatkan kandungan lokalnya hingga 98 persen dan harga jual tidak lebih dari Rp 8 juta.

Saat ini beberapa pemerintah daerah di Jawa Timur akan memakainya untuk penggerak alat pengangkut sampah serta di Sulawesi Selatan untuk angkutan perairan. Jika dipasangkan pada kendaraan bermotor, mobil mini itu dijual sekitar Rp 40 juta.